MERANCANG POROS PROPELLER DAN JOINT
PADA TRUK DENGAN KAPASITAS 5 TON
MOHAMAD IMAM
RAMADHAN
LANDASAN
TEORI
Prinsip
Kerja Poros
Poros
merupakan salah satu bagian terpenting dari setiap mesin. Hampir semua mesin meneruskan tenaga
bersama–sama dengan putaran. Peranan utama dalam
transmisi seperti itu dipegang oleh poros. Poros
propeller atau yang disebut juga poros gardan bekerja untuk meneruskan daya putaran dari transmisi
ke diferensial dalam keadaan tidak dalam satu
garis lurus. Dan putaran diteruskan dari
transmisi ke poros propeller dan dari poros
propeller ke diferensial melalui universal joint, universal
joint berfungsi untuk meneruskan
daya putaran yang dalam keadaan tidak satu garis.
Klasifikasi
Poros
Poros
untuk meneruskan daya diklasifikasikan menurut pembebanannya
sebagai berikut :
Poros
Transmisi
Poros
tersebut mendapat beban puntir murni atau puntir dan lentur. Daya ditransmisikan kepada poros
ini melalui kopling, roda
gigi, puli sabuk atau sproket rantai dan lain–lain. Contoh
pada
mesin yang mengalami beban puntir murni yaitu garden

Gambar 2.1 Poros Propeller

Gambar 2.2 Poros Roda Gigi
Poros Spindel
Poros spindel merupakan poros
transmisi yang relatif pendek, seperti poros utama mesin perkakas, dimana beban
utamanya berupa puntiran, disebut spindel. Syarat yang harus dipenuhi poros ini
adalah deformasinya kecil, sebab apabila deformasinya besar benda kerja tidak
akan silindris. Serta bentuk dan ukuran harus teliti. Poros spindel berhubungan
langsung dengan benda kerja.
Gambar 2.3 Poros Spindel
Poros Gandar
Poros seperti yang dipasang
diantara roda-roda kereta barang, dimana tidak mendapat beban puntir, bahkan
kadang-kadang tidak boleh berputar, disebut gandar. Gandar ini hanya mendapat
beban lentur, kecuali digerakkan oleh penggerak mula dimana mengalami beban
puntir juga. Menurut bentuknya, poros dapat digolongkan atas poros lurus umum,
poros engkol sebagai poros utama dari mesin torak, dan lainlain. Poros luwes
untuk transmisi daya kecil agar terdapat kebebasan dari perubahan arah, dan
lain-lain.
Gambar 2.4 Poros Roda Kereta Api
Poros
Propeller Pada Kendaraan
Poros
propeller memindahkan tenaga dari transmisi ke diferensial transmisi yang umumnya terpasang pada
rangka sasis, sedangkan diferensial dan
sumbu belakang disangga oleh suspensi sejajar dengan roda belakang. Oleh sebab itu posisi diferensial
terhadap transmisi selalu berubah ubah
pada saat kendaraan berjalan, sesuai dengan
permukaan jalan dan ukuran beban
poros
propeller. Poros
propeller dibuat sedemikian rupa agar dapat memindahkan tenaga dari transmisi ke diferensial
dengan lembut tanpa dipengaruhi akibat adanya
perubahan-perubahan tadi. Untuk
tujuan ini universal joint dipasang pada setiap ujung, fungsinya untuk menyerap perubahan sudut dari
suspensi. Selain itu sleeve yoke bersatu untuk
menyerap perubahan antara transmisi dan diferensial
Gambar 2.5 Perubahan Transmisi Dan Diferensial
Pada
umumnya poros propeller dibuat dari tabung pipa baja yang memiliki ketahanan terhadap gaya
puntiran atau bengkok. selain itu dipilih tabung
pipa baja di karenakan luas penampang yang di perlukan lebih kecil jika dibandingkan dengan poros pejal,
selain itu biaya yang harus di keluarkan
lebih kecil jika digunakan poros yang pejal. Bandul pengimbang atau balance weight dipasang
dibagian luar pipa dengan tujuan untuk keseimbangan pada waktu berputar. Pada umumnya poros propeller terdiri
dari satu pipa yang mempunyai dua penghubung yang terpasang pada kedua ujung
berbentuk universal joint. Tipe poros propeller dua bagian dengan tiga joint
kadang-kadang menggunakan bearing tengah yang bertujuan untuk mengurangi
getaran dan bunyi.
Universal
Joint
Universal joint, U joint, Cardan joint, Hardy-Spicer
joint, atau Hooke joint adalah joint dalam sebuah batang kaku yang dimungkinkan
batang tersebut membengkok dalam segala arah, dan umumnya digunakan pada rotary
shaft ( poros yang berputar ) yang mengirimkan gerakan ( putaran ). Terdiri
dari sepasang engsel terletak berdekatan, berorientasi pada 90° untuk satu sama
lain, dan dihubungkan dengan poros salib.


Gambar 2.6 Universal Joint
Solid Joint
Fungsi universal joint ialah
untuk meredam bahan sudut dan untuk melembutkan perpindahan tenaga dari
transmisi ke diferensial. Universal joint ada dua tipe : universal joint solid
bearing cup yang dapat dibongkar dan universal joint seal bearing cup yang
tidak dapat dibongkar.

Gambar 2.7 Solid Joint
Kondisi jalan mempengaruhi
kerja suspensi dan berakibat pada posisi diferenSial selalu berubah-ubah
terhadap transmisi. Universal joint dipakai untuk mengatasi kondisi tersebut
agar poros selalu dapat berputar dengan lancar, sehingga universal joint harus
mempunyai syarat : dapat mengurangi resiko kerusakan propeller saat poros
bergerak naik / turun, tidak berisik atau berputar dengan lembut, konstruksinya
sederhana dan tidak mudah rusak. Jadi universal joint berfungsi untuk
melembutkan pentransfer tenaga dari transmisi ke diferensial. Dimana konstruksi
dari universal joint dimungkinkan berputar lembut dan tidak mudah rusak. Tipe ini
disebut juga Hook Joint :

Gambar 2.8 Konstruksi Hook
Joint
Pada umumnya poros propeller
menggunakan konstruksi tipe ini, karena selain konstruksinya yang sederhana
tipe ini juga berfungsi secara akurat dan konstan. Konstruksi hook joint adalah
seperti gambar di atas. Ada dua tipe hook joint yaitu shell bearing cup type
dan solid bearing cup type. Pada tipe shell bearing cup universal joint tidak
bisa dibongkar sedangkan pada tipe solid bearing cup bisa dibongkar. Ilustrasi
konstruksi kedua tipe universal joint tersebut dapat dilihat pada gambar
berikut :

Gambar 2.9 Konstruksi hook
joint tipe shell bearing cup

Gambar 2.10 Konstruksi hook
joint tipe solid bearing cup
Flexible Joint
Flexible joint terdiri dari karet kopling yang
keras yang diletakkan diantara dua yoke berbentuk kaki tiga. Selama flexible
joint tidak menghasilkan gesekan akan berputar lembut tanpa diperlukan
pelumasan.
Gambar 2.11 Flexible Joint
Constant Velocity Joint
Constant velocity joint
mempunyai keuntungan memindahkan putaran dan momen lebih lembut, dan mempunyai
kerugian mahal karena desainnya kompleks. Oleh karena itu jarang dipakai untuk
penyambungan poros propeller, tetapi lebih sering dipakai pada poros penggerak
depan dari kendaraan penggerak roda depan atau poros penggerak belakang dari
kendaraan dengan suspensi belakang independent.
Gambar 2.12 Constant Velocity
Joint
Penghubung Bola Peluru (Pot Joint)
Kemampuan sudut dapat
meneruskan tenaga/putaran pada sudut maksimum 50o (rata – rata 30o). Penggunaan
Pada suspensi independent. Pada rigrid axle depan dengan penggerak roda (4
wheel drive). Sifat-sifat kerjanya lebih stabil (konstan).
Gambar 2.13 Penghubung Bola Peluru (Pot Joint)
Gambar 2.13 Penghubung Bola Peluru (Pot Joint)
Trunion
Joint
Model
ini berusaha menggabungkan tipe hook joint dan slip joint, namun hasilnya masih dibawah slip joint sendiri,
sehingga jarang digunakan. Konstruksinya
dapat dilihat pada gambar disamping.

Gambar 2.14 Trunion Joint
Slip
Joint
Bagian ujung
poros propeller yang dihubungkan dengan poros output transmisi terdapat alur-alur untuk
pemasangan slip joint. Hal ini memungkinkan
panjangnya poros propeller sesuai dengan jarak output transmisi dengan diferensial.
Konstruksinya dapat dilihat pada gambar disamping.
Gambar 2.15 Slip Joint
Center
Bearing
Center
bearing terdiri dari rubber bushing yang melindungi bearing dimana gerakannya menahan poros propeller.
Rubber bushing juga berfungsi untuk
mencegah getaran yang mencapai bodi kendaraan. Dan hasilnya getaran atau bunyi dari poros propeller pada
kecepatan tinggi dapat dikurangi seminimal
mungkin.


Gambar 2.16 Center Bearing
Sebagai
perbandingan untuk sasaran tugas perencanaan makam dipilihlah Hino Dutro 110 SD yang
merupakan truk roda empat kategori kecil buatan PT. Hino Motors Manufacturing Indonesia. Tidak seperti truk
kategori lain yang mempunyai volume silinder dan kapasitas angkut yang lebih
besar, jenis mesin yang di produksi oleh Hino untuk varian 110 SD yaitu 4009 cc
dengan kapasitas beban angkut mencapai 5200 Kg (5,2 Ton). Hal ini disebabkan
karena Hino memang membuat segmen pasar untuk kendaraan angkut dengan kapasitas
kecil yang lebih efisien dan ekonomis.

Gambar 2.17 Hino Dutro 110 SD
Karena Hino Dutro 110 SD merupakan kelas light truck atau
bahasa umumnya truk kategori kecil, pada dasarnya hanya mempunyai 1 bagian
poros propeller yang langsung menyalurkan tenaga gerak dari transmisi ke poros
propeller dan meneruskannya ke diferensial belakang (gardan).


Gambar 2.18 Beberapa bentuk poros propeller pada
kendaraan
Hal-Hal
Penting Dalam Merancang Poros Untuk
merencanakan sebuan poros, hal-hal berikut ini perlu diperhatikan.
Kekuatan
Poros
Suatu poros transmisi dapat mengalami beban puntir atau
lentur atau gabungan antara puntir dan lentur, ada juga poros yang mendapat
beban tarik atau tekan seperti pada poros turbin. Kelelahan tumbukan atau
pengaruh konsentrasi tegangan bila diameter poros diperkecil (poros bertingkat)
atau bila poros mempunyai alur pasak harus diperhatikan, sehingga sebuah poros
harus cukup kuat menahan beban yang terjadi pada poros tersebut.
Kekakuan
Poros
Meskipun sebuah poros memiliki kekuatan yang cukup,
tetapi jika lenturan defleksi puntirannya melebihi batas yang diizinkan maka
akan mengakibatkan ketidaktelitian misalnya pada mesin perkakas atau getaran
suara pada turbin dan gear box. Karena itu disamping kekuatan juga harus
diperhatikan dan disesuaikan dengan jenis mesin yang akan menggunakan poros
tersebut.
Puntiran
Kritis
Bila
putaran suatu mesin dinaikkan maka pada suatu harga putaran tertentu dapat terjadi getaran yang luar
biasa. Hal ini bisa terjadi pada turbin, motor
torak silinder, motor listrik dan lain–lain. Serta
dapat mengakibatkan kerusakan
pada poros dan bagian lainnnya. Jika mungkin harus direncanakan sedemikian rupa sehingga putaran kerja
lebih dari putaran kritis.
Korosi
Bahan–bahan
tahan korosi (termasuk plastik) dipilih untuk poros propeller dan
pompa, bila terjadi kontak dengan fluida yang korosif. Demikian juga poros–poros yang terancam
kavitasi dan poros–poros mesin yang
berhenti lama, sampai baras–batas tertentu dapat pula dilakukan
perlindungan
terhadap korosi.
Bahan
Poros
Poros
untuk mesin umum biasanya dibuat dari baja batang yang ditarik
dingin
dan difinishing, yaitu baja karbon konstruksi mesin yang dihasilkan dari igot yang di – kill (baja
yang dioksidasi dengan ferro silikon dan dicor) Meskipun demikian kelurusan poros ini
agak kurang tetap dan dapat mengalami
deformasi karena tegangan yang kurang seimbang misalnya diberi alur pasak dan adanya tegangan sisa
dalam terasnya. Penarikan dingin membuat
permukaan poros menjadi keras dan kekuatannya bertambah. Poros untuk meneruskan putaran tinggi
dan beban berat umumnya dibuat
dari baja paduan dengan pengerasan kulit yang tahan terhadap keausan. Beberapa diantaranya adalah baja khrom,
nikel, baja khrom nikel molibden, baja
khrom, baja molibden dan lain–lain. Meskipun demikian pemakaian baja paduan khusus tidak selalu diharuskan,
alasannya hanya karena putaran tinggi, dan
beban berat, dalam hal demikian perlu dipertimbangkan penggunaan baja karbon yang diberi perlakuan panas
secara tepat untuk memperoleh kekuatan yang
diperlukan. Pada tugas perencanaan ini diasumsikan baja yang digunakan adalah S 55 C, dengan kekuatan
tarik sebesar 
Perumusan
Masalah Perancangan Poros Propeller


Rumusan
Perhitungan
Momen
Puntir
Momen puntir harus dimengerti terlebih dahulu sebelum
kita melangkah lebih jauh. Tujuannya adalah untuk menghindari penafsiran yang
menganggap bahwa momen dan kerja itu sama. Secara matematis momen dan kerja
adalah sama. Karena persamaan yaitu gaya dikalikan dengan jarak (F x R). Tetapi
secara fisis kerja dan momen berbeda, dalam kerja lintasannya berupa garis
lurus sedangkan dalam momen lintasannya harus tegak lurus.

Gambar 2.19 Potongan melintang sebuah poros
Momen
puntir yang dialami pada poros dapat dilihat dari penurunan persamaan :
Dimana
kerja dalam satu putaran
, jika dalam satu
menit ada n
putaran, maka daya dalam satu putaran adalah
Dengan mengkonversikan satuan menit ke detik maka diperoleh
persamaan :
Untuk langkah koreksi diambil pada fc N sebagai
faktor koreksi ini jenis tergantung daya yang ditransmisikan.
Dari definisi momen puntir adalah gaya yang terjadi
dikalikan dengan jarak,
Maka :
.................(2.5)
Sehingga
.............(2.6)
Tabel
2.-faktor1Faktorkoreksi daya yang
akan di transmisikan(fc)
|
|
Daya yang
akan dittransmisikan
|
fc
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Daya rata-rata yang diperlukan
|
1,2–2,0
|
|
||
|
|
Daya maksimum
yang diperlukan
|
0,8–1,2
|
|
||
|
|
Daya
normal
|
|
1,0–1,5
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
Sumber: Sularso
dan Kiyokatsu Suga,
1978
Maka :
Pd
= N . fc ……………(2.7)
dimana :
Pd = Daya rencana (kW)
N =
Daya maksimum (kW)
T =
Momen puntir ( Kg.mm )
Fc = Faktor koreksi daya
N =
Jumlah putaran per menit (rpm)
|
|||||
|
|
|||||
Tegangan Geser yang Diizinkan
Tegangan geser yang diizinkan untuk pemakaian umum pada
poros dapat diperoleh dari berbagai cara, salah satu cara diantaranya dengan menggunakan
perhitungan berdasarkan kelelahan puntir yang besarnya diambil 40% dari batas
kelelahan tarik yang besarnya kira-kira 45% dari kekuatan tarik. Jadi batas
kelelahan puntir adalah 18% dari kekuatan tarik, sesuai dengan standar ASME.
Untuk harga 18% ini faktor keamanan diambil sebesar 1/0,18 = 5,6. Harga 5,6 ini
diambil untuk bahan SF dengan kekuatan yang dijamin dan 6,0 untuk bahan S-C
dengan pengaruh masa dan baja paduan. Faktor ini dinyatakan dengan Sf₁. Pengaruh kekasaran permukaan juga harus diperhatikan
dengan harga sebesar 1,3 sampai 3,0 yang dinyatakan dengan ₂. Maka tegangan geser yang diizinkan dapat ditentukan
dari persamaan:
...................(2.8)
Dimana :

Diameter
Poros
Diameter poros dapat ditentukan dari hasil perhitungan
tegangan geser yang diizinkan, dimana tegangan geser yang terjadi ≤ tegangan
geser yang diizinkan.
Karena yang digunakan poros berongga persamaan menjadi ;
Tegangan yang terjadi,
..................(2.9)
..................(2.9)
Maka :

Gambar 2.21 Potongan melintang poros berongga
dimana : do = diameter luar (mm)
di = diameter
dalam (mm)
k = harga perbandingan do dengan di
T = Momen puntir
J = Inersia polar
Diameter
Universal Joint
Untuk mencari diameter universal joint kita harus menghitung
poros salib penghubung atau spider yang dapat ditentukan dari hasil perhitungan
tegangan lentur yang diizinkan, dimana tegangan lentur yang terjadi ≤ tegangan
lentur yang diizinkan. Dimana tegangan lentur yang diizinkan dapat ditentukan
dari persamaan:

Dimana :
σba = tegangan lentur yang diijinkan (Kg/mm2)
σB = kekuatan tarik yang dimiliki oleh suatu bahan poros (Kg/mm2)
Sf₁ = faktor
keamanan berdasarkan sifat bahan yang bersangkutan

Gambar 2.22 Spider
Dalam menghitung diameter spider harus diketahui dahulu
besarnya momen puntir dari poros untuk mencari gaya (F) dengan rumus ;
Diasumsikan besarnya
jarak lengan momen (Rm) adalah 1/3 dari panjang
spider (W), maka dengan rumus ;
Karena
yang digunakan adalah poros pejal maka tegangan lentur yang terjadi dihitung dengan persamaan;
PERHITUNGAN
PerhitunganPropellerPoros
DataMesinSpesifikasi
|
MESIN
|
|
|
|
Model
|
|
:W04D-TP
|
|
Tipe
|
|
:
Diesel, Direct4StrokeInjec
|
|
Tenaga
|
Maks
|
:110PS
pada2800Rpm
|
|
Momen
|
Putir Maks:29Kgm.0 pada1800Rpm
|
|
|
JumlahSilinder
|
:4
|
|
|
Diameter
x Langkah:104mmxPiston118mm
|
||
|
Isi
Silinder
|
:4009cc
|
|
|
TRANSMISI
|
:
Tipe5 speeds
|
|
|
PerbandGiging
|
|
|
|
ke-1
|
|
:5.339
|
|
ke-2
|
|
:2.792
|
|
ke-3
|
|
:1.593
|
|
ke-4
|
|
:1.000
|
|
ke-5
|
|
:0.788
|
|
mundur
|
|
:5.339
|
|
rasio
akhir
|
:4.625
|
|
|
KAPASITAS ANGKUT
|
:5200Kg
|
|
Torsi
(T)
Untuk
menghitung Torsi maksimum, dengan asumsi Daya yang konstan sebesar 110 PS dikonversi
menjadi satuan kW menjadi
N= 110x 0,746kW= 82 kW
Putaran
mesin (input) pada 2800 Rpm. Karena daya yang dipakai adalah daya maksimum dan diteruskan ke roda belakang
maka terjadi reduksi, sehingga
faktor koreksi (fc) yang digunakan adalah 0,9.
(Daya yang
direncanakan)
Pd
= N . fc
= (82) . 0,9
=
73,8 kW
Torsi yang terjadi

Perhitungan Poros
Diketahui :
k = perbandingan
diameter di
terhadap do poros
T = 26.000 Kg.mm
k = diasumsikan 0,8
Dalam
perancangan poros propeller Hino Dutro 110 SD di asumsikan bahan
yang digunakan S 55 C, yang memiliki kekuatan Tarik sebesar
66kg /mm2 dan diasumsikan nilai sf₁ = 6 dan nilai sf₂ = 2
Tegangan Geser yang Dijinkan
Maka tegangan geser yang diizinkan
:

dalam perancangan ini, diameter luar yang dipilih sebesar
55 mm. Diameter tersebut di sesuaikan dengan data yang ada pada tabel (55 mm
> 34,28 mm). Sehingga diameter dalamnya adalah :
di = a.do
di = 0,8.(55)
= 44 mm
Pemeriksaan tegangan geser yang terjadi, adalah :

Berdasarkan hasil perhitungan yang diperoleh, maka
tegangan geser yang terjadi (
= 1,331 Kg/mm2) lebih kecil dari tegangan geser yang diizinkan (
a = 5,5 Kg/mm2).
Perhitungan
Spider untuk Universal Joint
Sebelum kita mencari
diameter, harus diketahui dahulu bahan untuk poros salib penghubung
atau spider serta tegangan lentur yang diijinkan. Diasumsikan bahan yang digunakan adalah Baja SNCM –
23 dengan kekuatan tarik 100 Kg/mm2 dengan
nilai
Tegangan
Lentur yang Diijinkan

Dimensi
Spider

Perhitungan
Diameter Spider
Pembulatan angka diameter poros disesuaikan dari tabel
yang ada maka dipilihlah diameter poros sebesar 28 mm (28 mm > 22 mm).
Pemeriksaan tegangan lentur yang terjadi, adalah :
Berdasarkan hasil perhitungan yang diperoleh, maka
tegangan lentur yang terjadi (σb = 7,799 Kg/mm2) lebih kecil dari tegangan
lentur yang diizinkan (σba = 16,667
Kg/mm2). Sehingga ( σb = 7,799
Kg/mm2 ≤ σba = 16,667 Kg/mm2 ). AMAN.
Analisa
Agar
poros yang direncanakan mampu menahan terjadinya defleksi akibat puntiran, maka tegangan geser maksimum
yang seabenarnya poros harus lebih kecil atau
sama dengan tegangan geser yang diijinkan. Dari
hasil perhitungan penentuan dimensi
utama poros propeller , memang terdapat
beberapa penyimpangan dibandingkan
dengan keadaaan yang sebenarnya. Penyimpangan
yang terjadi ini kerena dalam perhitungan yang diameter poros yang dihitung adalah diameter minimum poros
yang dapat menahan beban maksimumyang
terjadi. Tetapi secara umum dapat disimpulkan bahwa hasil perancangan poros propeller masih
aman untuk di gunakan pada Hino Dutro 110 SD.
Satu hal yang perlu ditekankan bahwa dalam suatu perancangan ada faktor yang sangat penting dalam menunjang
keberhasilan suatu proses perancangan yaitu pengalaman
dalam merancang. Dengan
pengalaman yang cukup banyak, maka seorang perancang dapat mengambil faktor-faktor berdasarkan
beberapa asumsi yang tepat sedemikian rupa sehingga
rancangannya optimal. Namun demikian dalam menilai suatu proses perancangan, secara umum kita tidak
dapat membenarkan atau menyalahkan suatu hasil
perancangan karena tergantung oleh banyaknya variabel serta dilakukannya beberapa pembulatan terhadap hasil
perhitungan. Semua hasil perhitungan ini menunjukkan
bahwa poros yang direncanakan telah memenuhi syarat untuk dibuat dan dioperasikan.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil perhitungan yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan spesifikasi poros propeller belakang
hasil penentuan yang digunakan pada Hino Dutro
110 SD adalah sebagai berikut :
1.Poros
Propeller
- Bahan S 55C
- Daya pada
mesin = 82 kW
- Momen puntir
rencana (T) = 26.000 Kg.mm
- Diameter poros
luar (do) = 55 mm
- Diameter poros
dalam (di) = 44 mm.
Berdasarkan
hasil perhitungan yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan spesifikasi spider universal joint hasil
penentuan yang digunakan pada Hino Dutro 110
SD adalah sebagai berikut :
2.Universal
joint
- Bahan (JIS G
4103) SNCM 23
- Diameter spider
universal joint (ds) = 28 mm
- Lebar spider
universal joint (W) = 65 mm
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Sularso
dan Suga, K. 1980. DasarPerencanaan Dan Pemilihan Elemen
Mesin. Jakarta : P.T. Pradnya Paramita.
2 Niemann, G alih bahasa Budiman, Anton dan
Priambodo, Bambang. 1992.Elemen Mesin, Desain dan Kalkulasi dari Sambungan,
Bantalan dan PorosJilid 1. Jakarta : Erlangga.
3.http://www2.hino.co.id/product.php?z=2&c=45
Tidak ada komentar:
Posting Komentar